Kontak: (021) 82566566 / 98233829

    Rahasia Shalat Itu Berserah Diri Kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

    Hidup Sehat Dengan ShalatRahasia shalat, hakikat dan esensinya adalah keberserahan diri seorang hamba kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sepenuh jiwa dan raganya. Dan sebagaimana seseorang yang melakukan shalat tidak boleh memalingkan wajah dan badannya dari arah kiblat, begitupula ia tidak diperkenankan untuk memalingkan hatinya untuk memikirkan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahkan ia harus menjadikan Ka’bah itu sebagai kiblat wajah dan badannya, sedangkan menjadikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai kiblat hati dan jiwanya. Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerima shalat seseorang sesuai dengan keberserahan diri orang tersebut hamba kepada-Nya selama ia berada di dalam shalatnya, dan apabila di dalam shalatnya ia berpaling dari-Nya, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala pun akan berpaling darinya. Sebagaimana pepatah bijak mengatakan: “Sebagaimana engkau memperlakukan orang, maka seperti itu pulalah engkau akan diperlakukan oleh orang lain.”

    Hamba itu berada di antara dua perkara dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
    Pertama: Hukum atau ketentuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-Nya dalam setiap keadaannya, baik yang lahir ataupun yang batin, kemudian Dia juga yang menentukan hamba tersebut untuk beribadah sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan-Nya, karena sesungguhnya masing-masing hukum atau ketentuan itu ada nilai ibadah yang mengkhususkannya. Yang dimaksud adalah hukum kauni qadri (hukum universal yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sejak zaman azali).

    Kedua: perbuatan yang dilakukan oleh hamba tersebut dengan niat beribadah kepada Tuhannya, dan perbuatan ini merupakan yang harus dikerjakan oleh seorang hamba. Sedangkan hukumnya adalah dini amri (berhubungan dengan agama dan merupakan perintah yang harus dilaksanakan).

    Dan kedua hal ini harus dapat diterima dengan berserah diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Oleh sebab itu, maka dinamakan agamanya dengan agama Islam, yang berarti berserah diri. Karena sesungguhnya orang yang dapat menerima kedua hukum di atas, yaitu kauni qadri dan dini amri, dengan melaksanakan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak mencampuradukkannya dengan hawa nafsu, syahwat, dan maksiat, seraya berkata: “aku telah ditakdirkan untuk menyandang nama Islam”, maka dengan begitu ia disebut: “muslim.”


    Sumber : Hidup Sehat dengan Shalat, Syaikh Muhammad Al-Utsaimin, et.all, Terbitan AKBARMEDIA

    Akbar Media

    Website ini merupakan website resmi
    dari PT. Akbar Media.
    Seluruh isi tulisan, gambar,
    dan lainnya adalah hak cipta
    milik PT. Akbar Media.
    Hubungi untuk keterangan lebih lanjut.

    Top