Kontak: (021) 82566566 / 98233829

    Tawassul

    Tidaklah asing apabila kita mendengar kata ini disebutkan. Tapi apakah yang dimaksud dengan arti tawasul itu sebenarnya? Para ulama menjelaskan, bahwa dari segi bahasa, tawassul itu ialah menginginkan sesuatu dengan penuh kemauan.
    Ar-Raghib al-Ashfahani bertutur, “Wasilah artinya menginginkan sesuatu dengan kemauan yang keras, kata ini lebih khusus dari pada “washilah”, karena washilah mengandung makna kemauan yang keras. Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya:

    “......dan carilah jalan yang mendekatkan diri (wasilah) dengan kemauan yang keras kepada-Nya, .......” (QS. Al-Maidah: 35) Al-Hafizh Ibnu Jarir menjelaskan mengenai ayat ini dalam tafsirnya, bahwa yang dimaksud adalah “Dan carilah kedekatan kepada-Nya dengan amal yang membuat-Nya senang."

    Al-Haifzh Ibnu Katsir mengutip ucapan Ibnu ‘Abbas ra, bahwa makna wasilah di dalam ayat tersebut adalah amal ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Ia juga menukit perkataan Qatadah mengenai ayat tersebut, yakni: “Mendekatkan diri kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengerjakan amalan yang membuat-Nya senang.” Menurut Ibnu Katsir tidak ada silang pendapat di antara ahli tafsir dalam masalah ini. Jadi wasilah adalah sesuatu yang bisa memenuhi keinginan seseorang.

    Sebenarnya makna hakiki dari wasilah kepada Allah SWT, adalah menggunakan sarana yang bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan ilmu dan akidah, dan mencari keutamaan syariat, seperti berkurban.
    Salah satu wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT adalah dengan beramal saleh. Al-Qur’an dan Sunnah telah membimbing dan mengajarkan kepada kita, bahwa amalyang kita kerjakan baru akan bernilai saleh, diterima dan dapat mendekatkan diri kepada Allah, apabila dua syarat, yaitu:

    1.    Ikhlas, yakni amal tersebut harus dilakukan hanya karena Allah semata.
    2.    Harus sesuai dengan apa yang disyari’atkan oleh Allah dalam kitab-Nya dan apa yang diterangkan oleh Rasul-Nya di dalam Sunnahnya. Jika kurang salah satunya, maka amal tersebut tidak dianggap saleh dan tidak diterima. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT:

    “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS. AL-Kahfi: 110)

    Dalam ayat tersebut di atas kita diperintahkan oleh Allah agar beramal dengan amalan saleh, yaitu sesuai dengan sunnah Rasulullah saw, dan mengikhlaskan niatnya karena Allah semata. Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, “Inilah dua syarat agar amal diterima di sisi Allah; Harus ikhlas karena Allah, dan sesuai dengan syariat Rasulullah saw.”  

    Semoga amal saleh yang kita kerjakan selalu dibarengi dengan niat yang ikhlas, dan sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya, agar diterima di sisi Allah SWT. Amiin. Wallahu’alam.

    Dikutip dari :

    1. Tafsir Ath-Thabari, VI: 226.
    2. Tafsir ibnu Katsir, II: 52-53.
    3. Lihat, Shahih Tawassul (Perantara Terkabulnya Do’a), Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani & Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Ta’lif: Muhammad ‘Id Al-Abbasi & Abu Laits Al-Atsari, Terbitan AKBARMEDIA, Oktober 2010.
    4. Ibid.

    Akbar Media

    Website ini merupakan website resmi
    dari PT. Akbar Media.
    Seluruh isi tulisan, gambar,
    dan lainnya adalah hak cipta
    milik PT. Akbar Media.
    Hubungi untuk keterangan lebih lanjut.

    Top