| Beramal Tanpa Ilmu |
|
Padahal, sebagai seorang muslim tentu disadari atau tidak, setidaknya setiap kali mendirikan shalat lima waktu atau shalat-shalat yang lainnya, dia selalu meminta ditunjukan jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, dan dijauhkan dari jalannya orang-orang yang dimurkai Allah dan juga jalan orang-orang yang sesat. Dalam tafsir Jalalain dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan dua kelompok yang disebutkan dalam ayat ke tujuh dari surat al-Fatihah tersebut, ialah bahwa orang-orang mahgdhubi ‘alaihim adalah Yahudi, sedangkan orang-orang dhallin adalah Nashara. Berkata Ibnu Katsir, ”Dan perbedaan antara dua jalan tersebut, karena jalan orang yang beriman menggabungkan antara ilmu dan amal. Adalah orang Yahudi kehilangan amal, sedangkan orang Nashrani kehilangan ilmu. Oleh karenanya, orang Yahudi memperoleh kemurkaan dan orang Nashrani memperoleh kesesatan. Barangsiapa mengetahui, kemudian tidak mengamalkannya, layak mendapat kemurkaan. Berbeda dengan orang yang tidak mengetahui. Orang-orang Nashrani, ketika mempunyai maksud tertentu, tetapi mereka tidak memperoleh jalannya, karena mereka tidak masuk sesuai dengan pintunya. Yaitu mengikuti kebenaran. Maka, jatuhlah mereka ke dalam kesesatan.” Banyak orang yang menyangka, bahwa banyak amal dan ibadah sudah mendapat jaminan untuk hari akhiratnya, sekurang-kurangnya merupakan tanda kebenaran dan bukti keshalihan. Begitulah sering kita dengar, dan itulah fenomena yang terjadi di kalangan kaum muslimin. Kalaulah kita mencoba untuk mengingat firman Allah SWT dibawah ini, maka dapat dibayangkan oleh kita, bila seseorang yang mempunyai amalan sebanyak pepasiran di pantai, akan tetapi setelah ditimbang, ternyata amalan dia bagaikan debu yang beterbangan, dan tidak ada di sisi Allah Subhaanahu Wa Ta’aala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. [Al Furqan:23]. Bukan saja amalannya tidak dianggap sebagai amalan yang diterima, bahkan dialah penyebab masuknya ke dalam api neraka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka). [Al Ghasyiah:1- 4]. Berkata Ibnu Abbas,”Khusyu`, akan tetapi tidak bermanfaat amalannya,” diterangkan oleh Ibnu Katsir, yaitu dia telah beramal banyak dan berletih-letih, akan tetapi yang diperolehnya neraka yang apinya yang sangat panas. Oleh sebab itu, Imam Bukhari membuat bab di dalam kitab Shahih Beliau, Bab: Berilmu sebelum berucap dan beramal.” Begitu pentingnya ilmu sebelum beramal, karena ilmu memegang peranan penting dalam setiap aktivitas amal yang dilakukan oleh setiap insan. Jadilah orang yang berilmu dan jangan jadi orang yang bodoh. Wallahu’alam.
|
Kalau kita renungkan secara seksama, bagaimana manusia bisa bisa beramal, maka ada tiga kemungkinan orang dalam beramal :