Beranda Tazkiyatun Nafs Tiga Akhlak Mulia
Tiga Akhlak Mulia

Akhlak mulia yang diajarkan oleh uswah hasanah kita yaitu Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi Wasallam begitu sempurna. Hal  ini tercermin dalam akhlak beliau sehari-hari yang mencakup segala sendi kehidupan, bahkan Allah Ta’ala memuji Nabi Shallallaahu’alaihi Wasallam dengan akhlaknya yang luar biasa agungnya, sebagaimana firman-Nya:
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (al-Qolam: 4)

Oleh karenanya, Rasulullah Shallallaahu’alaihi Wasallam mengajarkan umatnya agar menjadi umat yang mulia melalui akhlak yang mulia pula.

Di antara akhlak yang beliau ajarkan kepada kita selaku umatnya adalah sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah Shallallaahu’alaihi Wasallam yang bersumber dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwasanya Nabi Shallallaahu’alaihi Wasallam bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamunya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah mempereratkan hubungan kekeluargaannya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah mengucapkan yang baik ataupun diam“ (Muttafaq 'alaih)

Dalam hadits tersebut ada tiga akhlak yang mesti dijaga dengan sebaik-bainya kalau dia memang mengikrarkan dirinya dengan beriman kepada Allah dan hari akhir. Orang-orang yang meyakini adanya Allah sebagai Khaliq dan meyakini pula dengan Kebesaran Allah bahwa Dia akan membalas setiap perbuatan yang dilakukan oleh setiap manusia di akhirat kelak, maka mestilah ia menjaga tiga akhlak yang diajarkan oleh utusan-Nya, yaitu:

  1. Memuliakan tamu dengan sebaik-baiknya, hidangkan makanan yang terbaik yang ia punya dan sambutlah ia dengan perangai yang baik dan membahagiakannya. Janganlah tamu itu dibiarkan begitu saja tanpa diberi hidangan, terlebih bila dia diterimanya dengan perangai yang buruk. Bahkan dalam riwayat yang lain dijelaskan yang bersumber dari Abu Syuraih yaitu Khuwailid bin 'Amr al-Khuza'i radhiyallahu’anhu, katanya: "Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu’alaihi Wasallam bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah memuliakan tamunya” (Muttafaq 'alaih)
  2. Mempererat hubungan kekeluargaan dengan penuh keikhlasan dan selalu menyambungkan tali silaturahim yang terputus diantara mereka. Allah Ta’aala menjelaskan dalam firman-Nya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisaa’: 1). Haram hukumnya bila seseorang memutuskan tali silaturahim, bahkan ia termasuk orang yang tidak akan masuk surga bila benar-benar telah memutuskan tali silaturahim. Dari Jubair Ibnu Muth'im Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak akan masuk surga seorang pemutus, yaitu pemutus tali kekerabatan." Muttafaq Alaihi.
  3. Berucap/berkata yang baik atau diam. Ini merupakan akhlak yang mulia yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sebagai bentuk konsekwensi dari iman. Bahkan Allah Ta’aala mengingatkan kepada kita agar berkata yang benar, maka niscaya Allah akan memperbaiki amal kita dan mengampuni kesalahan kita. Allah SWT berfirman:
    Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.(al-Ahzab:70-71)

Kalau tidak bisa berbicara yang baik, maka diam merupakan tindakan terbaik, hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi Shallallaahu’alaihi Wasallam
“Barangsiapa banyak diam maka dia akan selamat.” (HR. Ahmad)

Diam lebih baik apabila dengan berbicara akan menimbulkan dosa yang madharat yang sangat besar bagi dirinya. Bahkan terlalu banyak bicarapun merupakan hal yang tidak disukai oleh Allah Ta’aala, termasuk terlalu banyak bertanya. Rasulullah Shallallaahu’alaihi Wasallam bersabda:

Sesungguhnya Allah tidak menyukai banyak bicara, menghambur-hamburkan harta dan terlalu banyak bertanya.” (HR. Bukhari)

Wallahu’alam

 

Alamat

Jln. Batu Ampar V No. 8 Batu Permata
Kel. Batu Ampar, Kec. Kramat Jati - Jakarta Timur
Telp. (021) 82566566 / 98233829
Fax. (021) 70503031
info@penerbitakbar.com
akmed@cbn.net.id

Akbar Media

Website ini merupakan website resmi
dari PT. Akbar Media.
Seluruh isi tulisan, gambar,
dan lainnya adalah hak cipta
milik PT. Akbar Media.
Hubungi untuk keterangan lebih lanjut.