Kontak: (021) 82566566 / 98233829

    Haid (bagian I)

    Makna Haid
    Menurut Syaikh Ibnu Utsaimin, secara bahasa artinya mengalirnya sesuatu. Sedangkan menurut syariat agama adalah darah yang keluar dari rahim seorang perempuan secara alami, tanpa sebab apapun diwaktu-waktu yang sudah dimaklumi.
    Masa Haid dan Jangka Waktunya
    Usia datangnya haid, antara usia 12 tahun  sampai dengan 50 tahun, akan tetapi terkadang ada perempuan yang haid sebelum usia sebelum atau sesudah usia tersebut, sesuai dengan kondisi perempuan itu sendiri, lingkungan dan suasana tempat tinggalnya. Ada beberapa pendapat ulama tentang usia datangnya haid.Ad-Darimi berkata: “Menurutku, semua pendapat tersebut kurang tepat, sebab yang menjadi rujukan dalam masalah ini adalah adanya darah haid. Maka sebanyak apapun darah haid keluar, dalam keadaan apapun dan pada usia berapapun maka darah itu wajib dijadikan sebagai darah haid.Wallahu’alam.” Menurut Syaikh Ibnu Taimiyah, kapan saja seorang perempuan melihat darah haid, maka dia sedang haid, sekalipun usia dia dibawahn usia 9 tahun atau diatas 50 tahun. Hal ini karena hukum-hukum haid dikaitka oleh Allah SWT dan Rasul-Nya dengan adanya darah haid, dan tidak pernah membatasi usia haid pada masa tertentu. Adapun batas waktu datangnya haid para ulama berbeda pendapat. Ibnu Mundzir berkata, “Suatu kelompok berkata,”Tidak ada batas minimal atau maksimal untuk masa haid.” Pendapat ini sama dengan pendapat Ad-Darimi diatas dan inilah pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Pendapat ini adalah pendapat yang benar, karena berdasarkan al-Qur’an, Sunnah dan qiyas.

    Dalil pertama, firman Allah SWT:
    “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri  dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci.” (QS. Al-Baqarah: 222)

    Allah SWT menjadikan suci sebagai batas akhir larangan dan Dia tidak menjadikan batas akhirnya dengan berlalunya 1 hari, 2 hari, 3 hari atau 15 hari. Maka ini menunjukkan bahwa ‘illat (sebab adanya) hukum adalah ada dan tidak adanya darah haid. Kapan saja darah haid itu keluar, maka sejak saat itulah hukum berlaku dan kapan saja darah berhenti keluar, maka sejak saat itulah hukum berakhir.

     

    Dalil kedua, adalah riwayat yang termaktub dalam Shahiih Muslim, bahwa Rasulullah saw bersabda kepada ‘A`isyah ra yang datang haid ketika sedang berihram dalam ibadah Umrah,

    افْعَلِي  مَا  يَفْعَلُ  الْحَاجُّ غَيْرَ  أَنْ  لَا تَطُو فِي  بِالْبَيْتِ  حَتَّى  تَطْهُرِي


    “Lakukan apa yang biasa dilakukan oleh orang yang berhaji, hanya saja kamu tidak boleh thawaf di Baitullah sampai kamu suci.” ‘A`isyah ra berkata, “Ketika tiba hari raya kurban, baru aku suci (al-hadis).”

    Dalam Shahiih Bukhaari, disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda kepada ‘A`isyah:

    انْتَظِرِي  فَإِذَا  طَهُرْتِ  فَاخْرُجِي  إِلَى  التَّنْعِيمِ

    “Tunggulah. Lalu, apabila kamu telah suci maka keluarlah ke Tan'im.” Rasulullah --Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam-- menjadikan suci sebagai batas akhir larangan dan tidak menjadikan masa tertentu untuk batas akhir masa haid. Maka, ini menunjukkan bahwa hukum tergantung dengan ada dan tidak adanya haid. Wallahu’alam

     

    Dikutip dari;
    1. Lihat, Shahih Fiqih Wanita (Lengkap Membahas Masalah Wanita), Syaikh Muhammad Al-Utsaimin, Tarkhrij Hadits Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Terbitan Akbarmedia, Cet. 3
    2. Ibid
    3. Ibid
    4. Maksudnya menyetubuhi wanita di waktu haidh.
    5. Ialah sesudah mandi. Adapula yang menafsirkan sesudah berhenti darah keluar.

    Akbar Media

    Website ini merupakan website resmi
    dari PT. Akbar Media.
    Seluruh isi tulisan, gambar,
    dan lainnya adalah hak cipta
    milik PT. Akbar Media.
    Hubungi untuk keterangan lebih lanjut.

    Top