Kontak: (021) 82566566 / 98233829

    Harta-harta Tertentu Yang Wajib Dizakati

    Harta-harta tersebut adalah emas dan perak, dengan syarat [harus] sampai nisab, yaitu pada emas sebanyak 11 3/7 Pound Saudi Arabia (sekitar 85 gram) atau pada perak sebanyak 56 Riyal perak Saudi (200 Dirham, sekitar 624 gram) atau yang setara dengan keduanya dari uang tunai[1]. Zakat yang wajib padanya sebesar 4/10, dan tak ada perbedaan antara emas dan perak itu berbentuk mata uang, atau lempengan ataupun perhiasan. Berdasarkan ini berarti wajib dikeluarkan zakat pada perhiasan wanita dari emas dan perak jika telah sampai nisabnya, walaupun perhiasan tersebut dipakainya ataupun dipinjamkannya; karena keumuman dalil-dalil yang mewajibkan zakat emas dan perak tanpa ada keterangan rinci, dan karena adanya hadis-hadis khusus yang menunjukkan wajib zakat pada perhiasan sekalipun perhiasan itu dipakai, seperti hadis yang diriwayatkan Abdullah ibn Amr ibn al-‘Ash --Radhiyallaahu ‘anhu-- bahwa seorang wanita pernah datang kepada Nabi Muhammad --Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam--, sementara di tangan putrinya terdapat dua gelang emas. Lalu beliau berkata, “Apakah kau berikan zakat ini?.” Wanita itu menjawab, “Tidak.” Lantas beliau berkata, “Apakah kau suka Allah membelenggumu dengan dua belenggu dari neraka disebabkan keduanya?.” Kemudian wanita itu menanggalkan keduanya seraya berkata, Keduanya untuk Allah dan Rasul-Nya.[2]

    Ia berkata dalam kitab Buluugh ul-Maraam, Hadis riwayat tsalaasah dan sanad-nya kuat. Karena ini lebih berhati-hati, dan apa yang lebih berhati-hati, maka ia lebih diutamakan. Di antara harta-harta yang wajib dikeluarkan zakatnya termasuk barang-barang perniagaan, yaitu segala sesuatu yang disiapkan untuk perniagaan seperti properti, mobil, ternak, kain dan jenis-jenis harta lainnya. Yang wajib dikeluarkan padanya sebesar 4/10. Maka ia mendatanya di awal tahun berapa nilainya dan kemudian mengeluarkan 4/10-nya, baik itu lebih sedikit dari harga harga belinya, atau lebih banyak, ataupun sama. Adapun barang-barang yang ia siapkan untuk keperluannya atau disewanya seperti properti, mobil, alat-alat dan lain sebagainya, maka tidak ada kewajiban zakat padanya; karena sabda Nabi Muhammad --Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam--:

     

    لَيْسَ عَلَى الْمُسْلِمِ فِي عَبْدِهِ وَلاَ فِي فَرَسِهِ صَدَقَةٌ

    Tidak ada kewajiban zakat atas muslim pada budaknya maupun kudanya.”[3]

    Ahli Zakat

    Mereka adalah pihak-pihak yang berhak menerima zakat, dan mengenai siapa saja mereka, Allah --‘Azza wa Jalla-- sendiri yang telah menangani penjelasannya. Allah berfirman,

    ۞ إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿٦٠﴾

    “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana.” (QS. At-Taubah [9]: 60)

    Berarti mereka ada delapan (8) golongan:

    1. Orang-orang fakir, yaitu orang-orang yang tidak dapat menutupi kebutuhannya kecuali hanya sedikit, tidak sampai setengah. Jika ada seseorang tidak mendapatkan belanja setengah tahun untuk dirinya dan keluarganya, berarti dia orang fakir. Maka dia diberikan belanja yang mencukupi diri dan keluarganya untuk satu tahun.

    2. Orang-orang miskin, yaitu orang-orang yang mendapatkan setengah dari kebutuhannya hingga lebih, namun tidak cukup buat satu tahun penuh. Maka untuk mereka diberi tambahan yang mencukupi belanja setahun. Jika seseorang tidak memiliki uang, akan tetapi dia memiliki sumber pemasukan lain dari kerajinan tangan atau gaji atau investasi yang dapat mencukupi kebutuhannya, maka dia tidak diberi dari zakat; karena sabda Nabi Muhammad --Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam--:

    وَلاَ حَظَّ فِيهَا لِغَنِيٍّ وَلاَ لِقَوِيٍّ مُكْتَسِبٍ

    Tak ada padanya (zakat) bagian untuk orang yang kaya maupun orang yang masih kuat berusaha.”[4]

    3. Para pengurusnya, yaitu orang-orang yang ditunjuk pemerintah untuk menariknya dari para pemiliknya dan menyalurkannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya, menyimpannya dan berbagai bentuk pengurusan lainnya. Maka mereka diberikan zakat sebesar pekerjaan mereka atasnya, sekalipun mereka kaya.

    4.   Para muallaf, dan mereka adalah para pimpinan kabilah yang masih belum kuat keimanannya. Maka mereka diberi zakat supaya keimanan mereka kuat sehingga mereka dapat menjadi pendakwah-pendakwah Islam dan teladan yang baik. Jika seseorang masih lemah keislamannya, namun dia bukan dari kalangan pemimpin kabilah, melainkan dari kalangan masyarakat awam, apakah dia diberikan zakat supaya keimanannya kuat?

    Sebagian ulama melihat dia diberi zakat; karena maslahat agama lebih besar daripada maslahat fisik, sementara jika dia fakir maka dia diberi zakat untuk makanan fisiknya. Berarti memberi makan hatinya dengan imam tentu lebih besar manfaatnya. Sedangkan sebagian ulama berpendapat dia tidak diberi zakat; karena masalah memperkuat keimanannya adalah masalah pribadi dan khusus bagi dirinya sendiri.

    5.   Untuk memerdekakan budak, termasuk membeli budak dengan harta zakat dan memerdekakannya, membantu para hamba mukatab dan menebus orang-orang muslim yang tertawan.

    6. Orang-orang yang berhutang, yaitu orang-orang yang memiliki hutang jika mereka tidak mempunyai harta yang dapat mereka gunakan sebagai pembayar hutang mereka. Maka mereka itu diberikan zakat sebesar jumlah hutang mereka, baik itu sedikit maupun banyak, sekalipun mereka cukup dari segi makanan. Sekiranya ada seorang lelaki memiliki sumber pemasukan yang mencukupi kebutuhan makannya dan makan keluarganya, hanya saja ia punya hutang yang tidak sanggup ia bayar, maka ia diberi zakat sebesar pembayar hutangnya, dan tidak boleh menggugurkan hutang dari orang fakir yang berhutang sambil meniatkannya sebagai zakat.

    Para ulama berbeda pendapat jika yang berhutang itu seorang ayah atau anak, apakah ia diberi zakat. Pendapat yang sahih boleh diberi zakat.

    Boleh bagi si pemilik zakat untuk pergi kepada si pemilik hak (orang yang menghutangkan) dan memberikan haknya, sekalipun si empunya hutang tidak mengetahui hal tersebut, jika si pemilik zakat tahu bahwa si empunya hutang ini tidak sanggup membayar hutangnya.

    7.   Fii sabiilillaah, yaitu jihad di “jalan Allah”. Jadi, para mujahid itu diberi zakat sebesar kebutuhan yang mencukupi biaya jihad mereka, dan dari zakat boleh dibelikan alat-alat untuk jihad fii sabiilillaah.

    Di antara kategori fii sabiilillaah yang termasuk di dalamnya adalah orang yang belajar ilmu agama. Nah, mereka ini diberi zakat sebesar biaya yang memungkinkannya untuk menuntut ilmu, seperti membeli kitab-kitab dan lain sebagainya. Kecuali ia memiliki harta yang memungkinkannya untuk menuntut ilmu.

    8. Ibn Sabiil, yaitu musafir yang kehabisan bekal perjalanan. Maka ia diberi zakat sekedar mencukupinya untuk sampai ke kampung halamannya.

    Mereka itulah para penerima zakat yang Allah sebutkan di dalam kitab-Nya (Al-Qur`an) dan Allah kabarkan bahwa yang demikian itu merupakan ketentuan wajib dari-Nya, muncul dari ilmu serta hikmah Allah yang maha mengetahui lagi maha bijaksana, dan tidak boleh menyalurkannya kepada yang selainnya, seperti untuk pembangunan mesjid-mesjid dan perbaikan jalan. Karena Allah --‘Azza wa Jalla-- telah menyebutkan orang-orang yang berhak menerimanya secara terbatas, dan pembatasan bermakna menafikan hukum dari yang tidak masuk ke dalam yang dibatasi.

    Jika kita merenungi pihak-pihak penerima zakat ini, tahulah kita bahwa di antara mereka ada yang memang dia sendiri butuh kepada zakat dan di antara mereka ada yang kaum muslimin butuh kepadanya. Dengan demikian kita dapat mengetahui sejauh mana hikmah diwajibkannya zakat, dan di antara hikmahnya adalah membangun sebuah masyarakat yang baik, berintegrasi, solider, dengan sekuat tenaga. Dengan demikian kita juga dapat mengetahui bahwa Islam tidak mengabaikan harta maupun kemaslahatan-kemaslahatan yang dapat dibangun di atas harta, dan Islam tidak membiarkan jiwa-jiwa yang tamak bebas dalam ketamakannya, bahkan Islam merupakan pembimbing terbesar kepada kebaikan dan pengarah bangsa-bangsa menuju kebaikan. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.[5]

    Dikutip dari :

    [1] Ket: 56 Riyal = Rp 139.395 dengan kurs 1 Riyal= Rp 2.489

    [2] Hasan. HR. Abu Daud (1563) dan An-Nasaa`i (2479). Hasan menurut al-’Allaamah Al-Albani --Rahimahullaah-- dalam Shahiih Sunan Abii Daawud.

    [3] Muttafaq `alaih. HR. Al-Bukhari (1464) dan Muslim (982).

    [4] Shahiih. HR. Abu Daud (1633) dan An-Nasaa`i (2598). Disahihkan oleh al-’Allaamah Al-Albani --Rahimahullaah-- dalam Shahiih ul-Jaami’ (1419).

    [5] Lihat, Shahih Fiqh Wanita, Syaikh Muhammad Al-Utsaimin, Terbitan Akbarmedia, Bab Zakat.

    Akbar Media

    Website ini merupakan website resmi
    dari PT. Akbar Media.
    Seluruh isi tulisan, gambar,
    dan lainnya adalah hak cipta
    milik PT. Akbar Media.
    Hubungi untuk keterangan lebih lanjut.

    Top